“MELACAK SI PITUNG”

Siapa yang tidak mengenal Si Pitung, sebuah nama yang kerap menjadi fenomena tidak hanya di kalangan sejarawan namun juga di jagad persilatan. Pro dan kontra akan keberadaannya menjadi polemik yang patut dikemukakan, apakah tokoh yang satu ini memang benar adanya atau hanya dongengan pengantar anak-anak menjelang tidur semata?.


Dari beberapa cerita epos rakyat Betawi, hanya tokoh dengan nama Si Pitung lah yang masih diselimuti oleh misteri, baik riwayat asal usul dan keluarga, motivasi perlawanannya terahadap tuan tanah dan kompeni Belanda, sampai ke satu hal yang paling dipergunjingkan di kalangan persilatan, yaitu aliran silat Betawi macam apa yang dimilikinya.


Beberapa penulisan telah dilakukan, baik dari dalam maupun dari negeri Belanda sendiri. Tercatat data-data yang ada mengenai hal ini belum begitu bisa menjawab kemisteriusan legenda Si Pitung.


Bahan disertasi dan catatan ringkas buku cerita rakyat, umumnya mengutarakan tentang sepak terjang Pitung sebagai pahlawan bagi rakyat jelata. Tidak ada satupun dokumentasi yang menyatakan tentang pribadinya secara kongkrit, asal muasal ataupun kepiawaiannya dalam bermain ilmu silat.


Terbatasnya sumber tulisan tentang dirinya tidak menyurutkan pelacakan, sumber-sumber terkait termasuk keturunan ahli waris, cerita orang-orang tua, dan peninggalan berupa makam menjadi objek penelitian utama. Disamping masih menggunakan data-data yang sudah ada, tidak menutup kemungkinan pelacakan juga melibatkan kontemplasi dan masukan dari para sesepuh dan pakar yang berkecimpung di dunia silat dan kebatinan.


Rancag Lenong

Cap “Maling yang Budiman” atau “Robin Hood nya Betawi” banyak diberikan kepada sosok yang satu ini, terutama dari rancag atau cerita masyarakat Betawi yang diangkat ke dalam seni panggung lenong.


Si Pitung faktanya telah mengambil hati masyarakat kecil Betawi, simbol perlawanan rakyat terhadap penjajah Belanda yang mengakomodir kepentingan tuan tanah untuk memeras rakyat.


Sepak terjangnya dianggap sebagai kepanjangan tangan rakyat yang tertindas, meskipun jalan yang ditempuh jelas-jelas bertentangan dengan norma agama dan hukum Islam yang menjadi agama mayoritas masyarakat Betawi.


Setiap pertunjukan lenong yang marak di awal tahun tujuh puluhan, memposisikan Si Pitung sebagai pemuda super hero yang taat beragama, sosok pendekar pembela kebenaran yang tiada tanding, sakti mandraguna, selalu unggul dalam setiap perkelahian yang menggunakan teknik ilmu silat.


Rancag lenong seringkali menceritakan tentang kelihaian Si Pitung dalam menghadapi kejaran polisi Belanda, karena mempunyai ilmu halimun atau menghilang setiap kali terkepung.

Versi lain menceritakan ketika berhasil ditembak dengan peluru emas, mayat Si Pitung dimutilasi dan dikuburkan secara terpisah karena memiliki ajian Rawe Rontek. Sekalipun demikian masih dapat hidup kembali dan membantu perjuangan menghadapi tentara Jepang di zaman revolusi fisik.

Rancag Lenong tanpa disadari telah menina bobokan sebagian besar masyarakat Betawi, yang pada dekade awal tujuh puluhan memerlukan simbol kepahlawanan sebagai pembangun spirit masyarakat natif Jakarta yang terpinggirkan, baik oleh para pendatang maupun pemerintah kala itu (Ridwan Saidi, Eksistensi Melayu Betawi-2).


Apa dan Siapa Si Pitung

Nama Pitung merupakan nama yang absurd. Hal ini jelas tertera dari berita harian berbahasa Melayu, Hindia Olanda edisi ke 26 Juni tahun 1882 yang menyebutnya bervariasi. Ada Bitoeng, Pitang dan akhirnya Pitung.


Sejatinya pitung merupakan ungkapan bahasa Jawa Cirebon-Banten yang kala itu setelah abad ke 17 menjadi etnis yang eksodus besar (seabagai tenaga penggali kanal Molenvliet – Abdul Hakim, Jakarta Tempo Doeloe) di Batavia, yaitu “pitung-an”, arti harfiahnya bertujuh. Kemudian kata ini berkembang menjadi “Pituan Pitulung”, yang jika diterjemahkan secara bebas bermakna sebagai kelompok dengan tujuh orang yang saling bahu membahu dalam aksi perlawanan terhadap tuan tanah, dengan cara merampok dan menguras harta benda yang didapat dari hasil memeras rakyat kecil. Pada awalnya hasil rampokan dibagikan kepada masyarakat kecil yang membutuhkan, namun kemudian terjadi perselisihan yang akhirnya misi mulia ini dikesampingkan. Menurut harian berbahasa Belanda Lokomotief bahwa keterangan kelompok ini membagi-bagikan hasil rampokannya kepada masyarakat kecil tidak benar.


Ketujuh orang atau Pitung ini diketuai oleh Salihun dan Ji’i (Saroji) yang tinggal dil Kemandoran Rawa Belong, dengan beranggotakan Abdulrahman pemuda tanggung peranakan Arab asal Krekot, Daeng Merais Jawara Legoa berdarah Bugis, Mat Jebul yang sebelum bergabung adalah seorang Merbot di Cawang, dan Tocang Gering bekas kuli panggul Pasar Ikan yang peranakan Tionghoa Kampung Dadap, Tangerang, serta yang paling terakhir bergabung, Mujeran anak Depok murid H. Majid seorang pribumi kaya yang juga guru silat Ji’i. H. Majid adalah teman santri H. Naipin sewaktu mondok di Pesantren daerah Menes Banten.


Dalam setiap aksinya baik bersama-sama maupun sendiri-sendiri, selalu menggunakan nama “Pitung”. Namun ditenggarai bahwa yang selama ini dianggap sebagai sosok si Pitung adalah yang bernama Salihun. Nama ini ditemukan dalam surat Berita Acara Pemerikasaan (BAP) ketika dirinya bersama Ji’i pertama kali tertangkap dan mendekam di penjara Cipinang. Dengan tanda tangan berbentuk silang kecil, yang menandakan bahwa Salihun ini seorang yang buta huruf (Margreet Van Till, The Search of Si Pitung, History of The Indonesian Legend).


Karena kelihaiannya Salihun dan Ji’I berhasil melarikan diri dengan cara memanjat tembok penjara dengan beliung. Diperkirakan beliung ini telah dipersiapkan kawanan penjahat anak buah Rais yang telah lebih dulu mendekam di Cipinang. Beliung ini pada akhirnya menjadi senjata andalan Salihun untuk melakukan aksi perampokan selanjutnya.


Salihun diperkirakan dilahirkan di Pengumben, Sukabumi Ilir, masuk wilayah Rawa Belong pada tahun 1864. Tanu Trh dalam majalah Intisari pernah menggambarkan tentang sosok Pitung secara terperinci, berperawakan kecil namun kekar, dengan tinggi sekitar 155-157cm, berambut ikal dengan cambang tipis melingkar ke depan pipinya.


Ayahnya yang berdarah Cikoneng, Banten bernama Pi’un dan ibu bernama Nok Pinah yang berdarah Cirebon. Dari garis keturunan ayah ke atas bermuara pada sebuah nama Ki Aria Surawinata, seorang pejabat pemerintahan Kesultanan Banten setingkat Bupati di daerah Sampora, yang kemudian hari oleh Belanda dibujuk dan diangkat menjadi seorang Letnan di daerah Luar Batang Batavia.


Profesi Bang Pi’un adalah sebagai pengunduh (berkeliling kampung mencari ladang buah, dibeli dan diperam untuk kemudian dijual di pasar). Pada masa itu profesi pengunduh ini termasuk dalam kategori kalangan cukup lumayan untuk ukuran orang kampung.


Ji’i yang menjadi sahabat karibnya, menurut budayawan Betawi (alm) SM Ardan tidak lain adalah adik dari Nok Pinah ibu Salihun yang berdarah Cirebon. Disertasi Margreet Van Till hal:14 menyebutkan ketika Ji’i lepas dari tangkapan Demang Kebayoran, dia melarikan diri ke Singapura dan dari data ini disinyalir terdapat sindikat internasional dalam sepak terjangnya (Java-Bode 15-8-1893:2.).


Padahal Negara Singapura di abad 19 belum dikenal, pada waktu itu Negara Singapura masih bernama Tumasik. Nama Singapura yang dimaksud disini kemungkinan nama sebuah desa asal Ji’i dan Nok Pinah, yaitu 5 km sebelah utara Cirebon, sekarang masuk kecamatan Celancang, Cirebon Utara. Dalam kesempatan lain, penulis pernah menemukan seseorang yang mengklaim masih keturunan Saroji (Ji’i) di daerah Bedulan Cirebon Utara (wallahu’alam).


Sedikit gambaran tentang desa Singapura di Cirebon. Desa Singapura di masa kerajaan Sunda Galuh adalah sebuah pelabuhan ramai dengan Ki Gedheng Alang Alang sebagai Syahbandarnya, yang kemudian hari wilayah Singapura, Muara Jati, Cerbon Girang, dan Cerbon Larang menjadi satu kesatuan wilayah Caruban Nagari dengan Kian Santang atau Ki Samadullah/Haji Abdullah Iman/Cakrabuana/Kuwu Cerbon sebagai penguasanya.


Pitung dan Pencak Silat

Salihun pertama kali mengenal maenpukulan atau Pencak Silat dari ayahnya yang menguasai Jingkrik/Cingkrik, Cingkrik dikenal secara luas sebagai maenpukulannya orang Rawa Belong. Perihal siapa gurunya Bang Pi’un tidak diketahui dengan jelas.


Oleh ayahnya, Salihun dititipkan untuk belajar agama di Kampung Rawa Bebek kepada Haji Naipin yang berasal dari Menes, Banten. Kecendrungan untuk mempercayakan orang sekampung (Kulon) sebagai guru Salihun menjadi pertimbangan utama buat Bang Pi’un.


Guru agama di Betawi zaman dulu juga mempunyai keahlian dalam ilmu silat. Dari Haji Naipin selain mendapat pelajaran agama, Salihun juga belajar silat Cimande-Sera’.


Merasa telah cukup membekali ilmu agama dan silat, Haji Naipin menitipkan Salihun kepada seorang guru tarekat di Pecenongan yang bernama Sapirin bin Usman bin Fadli atau yang terkenal dengan sebutan Guru Cit (singkatan Guru Mursyid). Dari Guru Cit, Salihun mendapatkan pelajaran tarekat.


Perkenalan Salihun dengan Daeng Merais (Rais) yang jawara Legoa asal Bugis, terjadi ketika hasil jualan milik ayahnya di pasar Tenabang dicuri Rais dan kawan-kawan. Salihun yang dibantu Ji’i berhasil menaklukan gerombolan ini, sehingga terjadi kesepakatan diantaranya untuk menjalin persekongkolan.


Pertemuan inilah yang membuka jalan ke dunia kriminal Salihun dan Ji’i sehingga terkenal dengan Si Kelompok Tujuh atau “Si Pitung”.


Salihun berhasil menggeser kedudukan Rais sebagai ketua Gang karena kepiawaiannya bermain silat dan siasat. Hal ini dibuktikan dengan pemakaian cukin di pundak Salihun, yang pada masa itu penggunaan cukin di pundak merupakan simbol jawara atau jago silat yang telah teruji. Penggunaan cukin pada jawara Betawi disinyalir sebagai bentuk pengaruh kebudayaan Cina Selatan, dimana setiap pendekar Kuntao selalu menggunakannya.


Cukin berasal dari bahasa Hakka: chiu-kin, Chiu berarti gerah atau keadaan tidak nyaman dan Kin yang berarti kain. Disinyalir kata kain berasal dari kata kin ini. Pada masa kini pria Betawi cenderung menggunakan kain sarung sebagai pengganti cukin. Hal ini dimungkinkan sebagai bentuk metamorphosis kebudayaan Tionghoa ke dalam kebudayaan Betawi yang agamis.


Di kelompok Pitung ini terjadi sharing ilmu silat, Rais menularkan silat Sinding kepada Salihun. Dari Tocang Gering, Salihun dan Ji’i dikenalkan dengan permainan Kuntao dan senjata silat orang Cina, termasuk menggunakan senjata ledak tobangji (pistol).


Aksi kriminal pertama Salihun dan Ji’I sebagai gembong kelompok ini telah mengangkat namanya sebagai orang incaran polisi nomor satu di Batavia, dengan dihargainya kepala mereka berdua sebesar 400 gulden (Hindia Olanda 2-5-1893:2). Kompeni menganggap kelompok ini sangat berbahaya karena dalam setiap aksinya tidak memandang siapa target incaran orang-orang kaya pada waktu, baik pria, wanita, orang asing atau pribumipun menjadi korbannya. Alasan inilah yang digunakan polisi untuk memburu Salihun dan kawan-kawan.


Tercatat di harian Hindia Olanda, dua perampokan terbesar yang dilakukannya adalah perampokan rumah Haji Sapiuddin dan Nyonya De.C. Hal ini dibuktikan dengan digeledahnya rumah Salihun di Pengumben, dimana di dalam tanah rumahnya ditemukan sejumlah uang sebesar 125 Gulden, beberapa pakaian hitam dan peci yang digunakan kelompoknya dalam setiap melakukan aksi


Seorang tauke wanita bernama Mie di Kali Besar tak pelak menjadi korban perampokannya, darinya kelompok Pitung berhasil menggasak sejumlah kain sarung sehara ratusan gulden, pakaian pria, dan sepucuk revolver beserta pin dan 5 pelurunya (Hindia Olanda 22-11-1892:2).


Ketika sepak terjang kelompok ini telah tercium oleh komandan polisi AWV Hinne, Salihun berusaha menghindar ke daerah pesisir Marunda. Baginya pesisir adalah daerah yang sangat strategis untuk dijadikan markas sekaligus sarana pelarian dengan menggunakan media laut.


Tercatat di daerah ini kelompok Pitung berhasil menguras tuan tanah asal Bugis Haji Sapiuddin lewat siasat perantara Rais yang telah diatur Salihun.


Tidak semua orang Betawi mendukung perbuatan kelompok Pitung ini, hasil wawancara Damardhini menyatakan lain dari umumnya:


“Pitung memang perampok. Mungkin saja Haji Sapiudin dipukuli ketika itu. Kalau menurut istilah sekarang, Pitung itu pengacau, dan dicari oleh Pemerintah. Pitung memang jahat. Pekerjaannya merampok dan memeras orang-orang kaya. Menurut kabar, hasil rampokannya dibagikan pada rakyat miskin. Namun sebenarnya tidak. Tidak ada perampok yang rela membagi hasil rampokannya dengan cuma-cuma, bukan? Menurut kabar, Pitung menyumbangkan uangnya pada mesjid-mesjid. Saat itu mesjid hanya ada di Pekojan, Luar Batang, dan Kampung Sawah. Tidak ada bukti bahwa Pitung mendermakan uangnya di sana.” (Damardini 1993:148.)


Pesisir Pantai dan Kaki Gunung Sebagai Tempat Pelarian

Perjumpaanya dengan Isah, gadis asal Kali Baru mengantarkannya kepada Abdul Halim, ayah Isah yang terkenal sebagai guru silat aliran pesisir Syahbandar. Menurut Alwi Shahab, Salihun mendalami aliran silat Syahbandar ini. Kemungkinan ketika dalam persembunyiannya di Marunda, namun tidak sampai tamat karena kedudukannya telah tercium oleh kompeni yang berhasil meringkus kaki tangan Rais yang bernama Jeram Latip. Untuk meringankan hukumannya Jeram Latip bersedia dijadikan polisi partikelir yang menginformasikan keberadaan kelompok Pitung. Jeram Latip kemudian dibunuh Rais lewat pembantaian yang keji.


Kemanapun kelompok Pitung ini melarikan diri, selalu saja tercium kompeni. Modus operandi yang mengarahkan persembunyian pada pesisir laut dan kaki gunung telah tercium Van Hinne, dimana pesisir adalah tempat strategis untuk melarikan diri ke arah lautan, disamping dukungan nelayan Cirebon, Banten, Bugis dan Indramayu kepada kelompok ini.


Sedangkan kaki gunung merupakan gerbang ke arah rimba raya pegunungan, dimana hanya militer Belanda yang sedang sibuk dalam peperangan di Acehlah yang sanggup dan memiliki fasilitas ke arah itu. Sebut saja jalan menuju Depok yang kala itu masih diselimuti hutan belantara.


Salihun, Ji’i, Mat Jebul dan Mujeran sempat melarikan diri ke rumah Kong Haji Majid di Depok melalui sungai Ciliwung yang sebelumnya mampir di kampung halaman Mat Jebul di Cawang. Sementara Rais telah lebih dulu tertembak kompeni di atas perahu tatkala ingin melarikan diri lewat Marunda. Begitupun Abdulrahman yang tewas tertembak di daerah Bandengan .


Politik suap mulut kala itu bukan satu hal yang aneh lagi, hal ini terjadi manakala sepasukan polisi Belanda setingkat kompi yang dipimpin AW Van Hinne berhasil menangkap Ji’i untuk yang pertama kali namun kemudian berhasil melarikan diri ke kampung halamannya di desa Singapura, Cirebon. Keberhasilan penangkapan itu ditenggarai masyarakat atas jasa demang Kebayoran, hingga seminggu kemudian Salihun menembak mati Demang Kebayoran itu.


“Itoe djoeragan koetika ketemoe Si Pitoeng betoelan tempat sepi troes Si djoeragan menjikip pada Si Pitoeng dan dari tjipetnja Si Pitoeng troes ambil pestolnja dari pinjang, lantas tembak si djoeragan itoe menjadi mati itoe tempat djoega”. (Hindia Olanda 1-9-1893:2)


Tiga bulan kemudian, tepatnya di 16 Oktober 1893 lewat agennya Van Hinne berhasil menemukan jejak Salihun di daerah Kampung (Kota) Bambu yang sekarang masuk ke wilayah Tomang. Ketika di buru ternyata Salihun telah beralih ke arah pemakaman di Tenabang, dengan bergegas Van Hinne pun mendahului kea rah Tenabang (Hindia Olanda 18-10-1893:2).


Di pemakaman Tenabang yang sepi Salihun telah dinanti Scout AW Van Hinne beserta beberapa agennya. Karena tidak mengenali sosok Salihun yang seperti anak kecil, Van Hinne menegurnya dengan menyebut “hei…anak kecil”, kemudian yang ditegur langsung membalikkan badan dan memberondongkan revolvernya.


Terjadi tembak menembak diantara keduanya, yang kemudian pada tembakan selanjutnya Van Hinne berhasil menembak lengan Salihun. Salihun masih tetap berdiri bahkan balas menembak. Pada sepertiga peluru dari magazine revolver Van Hinne yang dimuntahkan tepat mengenai dada Salihun, hingga tersungkur, namun masih bisa melarikan diri. Pada kesempatan itu agen polisi lain yang sedari tadi mengepung di tempat lain menyambutnya dengan berondongan peluru kearah bawah punggung yang menembus hingga ke dada. Salihun tidak berkutik hingga sekarat dan di bawa ke Rumah Sakit , namun Salihun hanya bertahan satu hari di rumah sakit. Dia meninggal pada tanggal 17 Oktober 1893 pada usia 29 tahun, dalam keadaan membujang. Beberapa sanak keluarga yang menjenguk Salihun berhasil diizinkan untuk mengambil mayatnya dari rumah sakit, yang sebelumnya tidak mendapatkan izin.


Tepat satu hari sesudah itu, Minggu 18 Oktober 1893 pukul lima sore jenazah Salihun dikebumikan di daerah Kampung Baru, sekarang masuk ke Kebon Jeruk tepatnya di Green Garden sekarang. Versi lain menyatakan jenasahnya dikebumikan di daerah Kampung (Kota) Bambu, Tumang (Tomang) tepatnya di Jl. Kemuning, Jakarta Barat.


Menurut surat kabar Lokomotief yang pro Belanda, menyatakan bahwa ketika dalam keadaan sekarat Salihun meminta towak sama ijs (tuak dan es), permintaan mengejutkan buat seorang muslim yang taat.


Di lain pihak berita ini dibantah oleh harian berbahasa Melayu (Hindia Olanda 18-10-1893:2) yang menyatakan bahwa bukan Salihun yang meminta, melainkan tuak itu sengaja disodorkan Van Hinne dan kemudian ditolak (dimuntahkan) Salihun. Harian ini juga menambahkan bahwa selang beberapa jam sebelum kematian Salihun yang ditenggarai sebagai Pitung, terlihat di Pasar Senen sedang mencukur rambutnya. Dari berita ini ingin menjelaskan kepada masyarakat yang terlanjur menganggapnya sakti, bahwa Salihun atau Si Pitung hanya manusia biasa yang kebal peluru bahkan dengan pisau cukur sekalipun.


Tercatat dalam terbitan surat kabar Hindia Olanda yang memberitakan sepak terjang Salihun, Ji’i dengan kelompok Pitungnya berlangsung selama 16 bulan, dari edisi 26 Juni 1892 hingga 19 Oktober 1893.


Karena jasa-jasa Scout AW Van Hinne memberantas gerombolan Si Pitung ini, dia mendapat medali “the Broeder van de Nederlandsche Leeuw” dari pemerintahnya. Kemudian tugasnya dipindahkan ke kantor kepolisian pusat Batavia yang sekarang menjadi kantor POLDA Metro Jaya.


Setelah padamnya perlawanan kelompok Si Pitung, sebagian masyarakat tetap pada keyakinan semula bahwa Si Pitung dapat hidup kembali. Umumnya keyakinan ini disampaikan lewat kesenian rakyat “Rancag Si Pitung” yang marak pada masa itu:


‘Si Pitung sudah mati dibilangin sama sanak sudaranya

Digotong di Kerekot Penjaringan kuburannya

Saya tau orang rumah sakit nyang bilangin

Aer keras ucusnya dikeringin

Waktu dikubur pulisi pade iringin

Jago nama Pitung kuburannya digadangin

Yang gadangin kuburannya Pitung dari sore ampe pagi

Kalo belon aplusan kaga ada nyang boleh pegi

Sebab yang gadangin waktu itu sampe pagi

Kabarnya jago Pitung dalam kuburan idup lagi

Yang gali orang rante mengaku paye

Belencong pacul itu waktu suda sedie

Lantaran digali Tuan Besar kurang percaye

Dilongok dikeker bangkenye masi die

Memang waktu itu bangke Pitung diliat uda nyata

Dicitak di kantor, koran kantor berita

Ancur rumuk tulang iganya, bekas kena senjata

Nama Pitung suda mati Tuan Hena ke Tomang bikin pesta

Pesta itu waktu keiewat ramenye

Segala permaenan kaga larangannya

Tuju ari tuju malem pesta permisiannya

Sengaja bikin pesta mau tangkep kawan-kawannya

Nama Pitung mau ditangkep kawan-kawannya.


Perjuangan melawan tuan tanah dengan cara merampok sepeninggalan kelompok “Si Pitung” ini pun tidak serta merta padam, polisi masih kian disibukan dengan orang-orang yang mengaku penerus Si Pitung, seperti si Ma’un dari kampung Fluit, Si Gantang yang memang ganteng, serta si Gondrong, Kesen.


Kesimpulan

Bahwa kemungkinan besar nama “Si Pitung” bukan nama perorangan, melainkan nama kelompok yang terdiri dari tujuh orang dari asal kata Jawa Cirebon (pitung pitulungan). Kelompok ini tidak lain dari sebuah perkumpulan beberapa orang “jago” yang berasal dari kampung-kampung di Batavia. Sepak terjak yang merugikan tuan tanah sangat didukung masyarakat Betawi yang kala itu menjadi sapi perahan tuan tanah.


“Cerita dari mulut ke mulut” yang menyebutkan bahwa kelompok ini sering mendermakan hasil rampokannya (termasuk ke masjid Pekojan, Luar Batang dan Kampung Sawah) memang benar adanya, meskipun tidak ada bukti-bukti yang kuat.


Perihal aliran silat Betawi dari kelompok “Si Pitung” ini jelas lebih dari satu, dilihat dari jumlah orang yang terdiri dari tujuh orang Betawi (dua keturunan Banten-Cirebon, dua berdarah sunda, satu peranakan Arab, satu peranakan cina dan satu orang Bugis). Begitupun dengan makam “Si Pitung” yang lebih dari satu, yang menurut ceritanya dimutilasi lantaran memiliki ilmu Rawe Rontek. Padahal makam-makam itu merupakan makam para anggotanya yang dimakamkan berdasar daerahnya, atau paling tidak berdekatan dengan tempat tinggalnya.


Mengenai kesaktian kelompok “Si Pitung”, sebagaimana orang “jago zaman dahulu” pada umumnya sangat dimungkinkan adanya. Adapun kekebalan yang dapat ditembus dengan peluru hingga akhirnya menewaskan, merupakan suratan takdir dan kehendak Nya. Maut tidak akan bisa ditolak apabila sudah waktunya tiba, setinggi apapun ilmu kesaktiannya.


Dalam penulisan ini hanya bersifat analisa dan penelitian pribadi semata, tidak ada maksud atau tendensi apapun terhadap legenda rakyat yang telah menjadi bagian dari sejarah masyarakat Betawi. Tidak menutup kemungkinan banyaknya kesalahan dalam penelitian ini karena sifatnya yang semi ilmiah dan hipotesa. Untuk itu agar dibukakan pintu maaf yang sebesar-besarnya atas segala kekhilafan dan paparan yang tidak berkenan di hati khususnya kepada masyarakat berdarah Betawi, yang di tubuh ini juga mengalir deras di dalamnya.


Advertisements
Published in: on September 25, 2008 at 5:14 am  Leave a Comment  

The URI to TrackBack this entry is: https://ribastian.wordpress.com/2008/09/25/%e2%80%9cmelacak-si-pitung%e2%80%9d/trackback/

RSS feed for comments on this post.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: